Kamis, 15 Desember 2016

Ikhlas Kunci Kemenangan


  • “Katakanlah sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (Q.S Al-An’am: 162-163)
  • Orang yang ikhlas adalah orang yang terlepas dari syirik dan riya’ dalam beribadah.
  • Ikhlas berbeda dengan ridho atau rela. Ikhlas adalah segala sesuatu yang ditujukan hanya untuk Allah SWT, sedangkan ridho atau rela adalah kelapangan hati menerima sesuatu. Adakalanya seseorang melakukan sesuatu dengan berat hati, tapi mendapat keikhlasan karena perbuatannya dilakukan karena Allah. Sebaliknya, adakalanya seseorang merasa lapang hati setelah melakukan sesuatu, tetapi amalnya ditolak karena bertujuan mengharap pujian manusia, kesenangan duniawi, jabatan, ketenaran, dll.
  • Ikhlas secara bahasa artinya murni, bersih, dan jernih.
  • Ikhlas secara istilah adalah meninggalkan suatu hal dengan tujuan mencari ridho Allah SWT dan pahala dari-Nya serta berlepas diri dari sesuatu selain Allah SWT (DR. Ali Abdul Halim Mahmud). Di sisi lain, memaksudkan amal dengan fokus tujuannya adalah ketaatan kepada Allah SWT (Imam Abu Qasim Al-Qusyairi)
  • Tabiat para pejuang, juga para Nabi dan Rosul yang selalu menjaga keikhlasannya adalah banyak mengingat Allah agar memperoleh kemenangan seperti firman Allah SWT dalam sebuah ayat, ““Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab 41)
  • Ikhlas memiliki tingkatan-tingkatan. Setiap orang memiliki derajat keikhlasan yang berbeda-beda. Untuk mencapai maqam ikhlas yang paling tinggi, seseorang harus melalui tingkatan ikhlas yang paling rendah terlebih dahulu. Akan tetapi, tinggi rendahnya derajat keikhlasan, hanya Allah yang mengetahui secara pasti.
  • Perkara yang merusak keikhlasan adalah mengharap pujian manusia atau keuntungan duniawi ketika beramal.
  • Mempublikasikan amal kebaikan dalam rangka syiar agama bukanlah perbuatan riya’.
  • Kemenangan atau kesuksesan dunia adalah bentuk ujian dari Allah SWT karena kemenangan sesungguhnya adalah ridho Allah SWT.
  • Dua bentuk kemenangan dalam Q.S Ash-Shaff: 12-13:
    1. Fauzun ‘azhim, yaitu ampunan Allah SWT dan surga beserta tempat tinggal yang baik di dalamnya.
    2. Karunia yang kita sukai, yaitu pertolongan Allah SWT dan kemenangan yang dekat.

  • Syaratnya (Q.S Ash-Shaff: 11):
    1. Beriman kepada Allah SWT dan Rosul-Nya.
    2. Berjihad di jalan Allah SWT dengan harta dan jiwa.

  • Keikhlasan harus hadir di saat senang ataupun susah (Q.S Al-Fajr: 15-16):
Nikmat dan kesempitan bukanlah indikasi keridhoan Allah SWT. Akan tetapi, syukur seseorang saat mendapat nikmat dan kesabarannya saat menghadapi kesusahan itulah bentuk keikhlasan yang akan mendatangkan ridho Allah SWT.
  • Tanda kemenangan yang berkah adalah jika semakin banyak orang yang mendapatkan hidayah dan kembali bertaubat kepada Allah SWT. (Q.S An-Nasr: 1-3)
  • Ikhlas menimbulkan kelezatan ibadah dan kelezatan iman sehingga seseorang yang ikhlas akan terus menjaga konsistensi ibadahnya dan ingin terus mengulanginya lagi dan lagi.
  • Orang yang ikhlas optimal mengupayakan sebab-sebab kemenangan, tapi tidak bergantung kepada sebab-sebab itu. Sebaliknya, hatinya selalu bergantung kepada Allah SWT.

Konsep Beramal:


Janganlah meninggalkan amalan karena takut riya’. Tapi beramallah dan terus melawan riya’ dengan keikhlasan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar dengan bebas dan sopan.