Ikhlas Kunci Kemenangan
- “Katakanlah
sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan
semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan
kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada
Allah)". (Q.S Al-An’am: 162-163)
- Orang yang ikhlas adalah orang yang terlepas
dari syirik dan riya’ dalam beribadah.
- Ikhlas berbeda dengan ridho atau rela. Ikhlas
adalah segala sesuatu yang ditujukan hanya untuk Allah SWT, sedangkan ridho
atau rela adalah kelapangan hati menerima sesuatu. Adakalanya seseorang
melakukan sesuatu dengan berat hati, tapi mendapat keikhlasan karena
perbuatannya dilakukan karena Allah. Sebaliknya, adakalanya seseorang merasa
lapang hati setelah melakukan sesuatu, tetapi amalnya ditolak karena bertujuan
mengharap pujian manusia, kesenangan duniawi, jabatan, ketenaran, dll.
- Ikhlas secara bahasa artinya murni, bersih,
dan jernih.
- Ikhlas secara istilah adalah meninggalkan
suatu hal dengan tujuan mencari ridho Allah SWT dan pahala dari-Nya serta
berlepas diri dari sesuatu selain Allah SWT (DR. Ali Abdul Halim Mahmud). Di
sisi lain, memaksudkan amal dengan fokus tujuannya adalah ketaatan kepada Allah
SWT (Imam Abu Qasim Al-Qusyairi)
- Tabiat para pejuang, juga para Nabi dan Rosul
yang selalu menjaga keikhlasannya adalah banyak mengingat Allah agar memperoleh
kemenangan seperti firman Allah SWT dalam sebuah ayat, ““Sesungguhnya laki-laki dan
perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk
mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab 41)
- Ikhlas memiliki tingkatan-tingkatan. Setiap
orang memiliki derajat keikhlasan yang berbeda-beda. Untuk mencapai maqam
ikhlas yang paling tinggi, seseorang harus melalui tingkatan ikhlas yang paling
rendah terlebih dahulu. Akan tetapi, tinggi rendahnya derajat keikhlasan, hanya
Allah yang mengetahui secara pasti.
- Perkara yang merusak keikhlasan adalah
mengharap pujian manusia atau keuntungan duniawi ketika beramal.
- Mempublikasikan amal kebaikan dalam rangka
syiar agama bukanlah perbuatan riya’.
- Kemenangan atau kesuksesan dunia adalah
bentuk ujian dari Allah SWT karena kemenangan sesungguhnya adalah ridho Allah
SWT.
- Dua bentuk kemenangan dalam Q.S Ash-Shaff:
12-13:
- Fauzun ‘azhim, yaitu ampunan Allah SWT dan
surga beserta tempat tinggal yang baik di dalamnya.
- Karunia yang kita sukai, yaitu pertolongan
Allah SWT dan kemenangan yang dekat.
- Syaratnya (Q.S Ash-Shaff: 11):
- Beriman kepada Allah SWT dan Rosul-Nya.
- Berjihad di jalan Allah SWT dengan harta dan
jiwa.
- Keikhlasan harus hadir di saat senang ataupun
susah (Q.S Al-Fajr: 15-16):
Nikmat dan kesempitan bukanlah indikasi
keridhoan Allah SWT. Akan tetapi, syukur seseorang saat mendapat nikmat dan
kesabarannya saat menghadapi kesusahan itulah bentuk keikhlasan yang akan
mendatangkan ridho Allah SWT.
- Tanda kemenangan yang berkah adalah jika
semakin banyak orang yang mendapatkan hidayah dan kembali bertaubat kepada Allah
SWT. (Q.S An-Nasr: 1-3)
- Ikhlas menimbulkan kelezatan ibadah dan
kelezatan iman sehingga seseorang yang ikhlas akan terus menjaga konsistensi
ibadahnya dan ingin terus mengulanginya lagi dan lagi.
- Orang yang ikhlas optimal mengupayakan
sebab-sebab kemenangan, tapi tidak bergantung kepada sebab-sebab itu. Sebaliknya,
hatinya selalu bergantung kepada Allah SWT.
Konsep Beramal:
Janganlah meninggalkan amalan karena takut
riya’. Tapi beramallah dan terus melawan riya’ dengan keikhlasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar dengan bebas dan sopan.