Allah
memberi kemampuan menghafal dan mengingat yang berbeda-beda pada tiap
orang. Bahkan imam besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs -yang mana
bacaan kita merujuk pada riwayatnya- yaitu Imam Asim menghafal Al-Quran
dalam kurun waktu 20 tahun. Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’
tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yang sudah kita
agendakan HANYA untuk menghafal.
2. Bukan untuk diburu-buru, bukan untuk ditunda-tunda
Kalau
kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah WAKTU
KHUSUS untuk menghafal misalnya, maka berapapun ayat yang dapat kita
hafal tidak jadi masalah. Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat
pertama belum benar-benar kita hafal. Nikmati saja saat-saat ini. Saat
dimana kita bercengkrama dengan Allah. satu jam lho. Masak untuk urusan
duniawi delapan jam betah, hehe. Inget, satu huruf melahirkan sepuluh
pahala bukan?
So, jangan buru-buru. Tapi ingat, juga bukan untuk ditunda-tunda. Habiskan saja durasi menghafal secara ‘PAS’.
3. Menghafal bukan untuk khatam, tapi untuk setia bersama Qur’an
Kondisi
HATI yang tepat dalam menghafal adalah BERSYUKUR bukan BERSABAR. Tapi
kita sering mendengar kalimat “Menghafal emang kudu sabar”, ya kan?
Sebenarnya gak salah, hanya kurang pas saja. Kesannya ayat-ayat itu
adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat-cepat kita pindahkan
agar segera terbebas dari beban (khatam). Bukankah di awal surat Thoha
Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan BUKAN SEBAGAI BEBAN. Untuk
apa khatam jika tidak pernah diulang? Setialah bersama Al-Qur’an.
4. Senang dirindukan ayat
Ayat-ayat
yang sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory,
sebenarnya ayat itu lagi kangen sama kita. Maka katakanlah pada ayat
tersebut “I miss you too…” hehe. Coba dibaca arti dan tafsirnya. Bisa
jadi ayat itu adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan buru-buru
suntuk dan sumpek ketika gak hafal-hafal. Senanglah jadi orang yang
dirindukan ayat.
5. Menghafal sesuap-sesuap
Nikmatnya
suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum
makan bukan pula setelahnya. Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca
berulang-ulang. Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita
agar makan terasa nikmat. Makan pake sendok teh gak nikmat karena
terlalu sedikit, makan pake centong nasi bikin muntah karena terlalu
banyak. Menghafal-pun demikian. Jika “‘amma yatasa alun” terlalu
panjang, maka cukuplah “‘amma” diulang-ulang. Jika terlalu pendek maka
lanjutkanlah sampai “‘anin nabail ‘adzhim” kemudian diulang-ulang.
Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.
6. Fokus pada perbedaan, abaikan persamaan
“Fabi
ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban” jika kita hafal 1 ayat ini, 1 saja
maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat
Ar-Rahman. Sudah hampir separuh surat kita hafal. Maka ayat ini dihafal
satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang
merangkai ayat tersebut.
7. Mengutamakan durasi
Seperti
yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada DURASI bukan pada jumlah ayat
yang akan dihafal. Ibarat argo taxi, keadaan macet ataupun di tol dia
berjalan dengan tempo yang tetap. Serahkan satu jam kita pada Allah..
syukur-syukur bisa lebih dari satu jam. Satu jam itu gak sampe 5 persen
dari total waktu kita dalam sehari loh! Lima persen untuk Al-Quran,
harus bisa dong ah…
8. Pastikan ayatnya bertajwid
Cari
guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Bacaan tidak bertajwid yang
‘terlanjur’ kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari
(setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya). Jangan dibiasakan
otodidak dalam hal apapun yang berkaitan dengan Al-Qur’an; membaca,
mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Al-Quran.
Sumber: Arrahmah.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar dengan bebas dan sopan.